Hidup di kota kecil seperti Dabo Singkep tempat aku di besarkan dan tempat kamu dilahirkan memang sangat beda dengan hidup di kota besar. Dimana semua orang berlari untuk mencari dunia, bahkan disini di kota besar fungsi azan sudah bukan lagi panggilan untuk shalat tapi hanya alarm, iya hanya "alarm".
Azan Dzuhur telah menjadi alarm panggilan untuk makan siang, meninggalkan meja dan cari warung.
Azan Asyar dijadikan panggilan untuk istirahat sejenak minum kopi atau teh dan bahkan patungan untuk beli gorengan dan makan bersama lupa shalat.
Azan Magrib waktunya meninggalkan dan beres meja kantor kemudian pulang atau kumpul di cafe atau mereka yang di rumah seperti aku, Magrib adalah waktunya untuk sejenak meninggalkan layar televisi untuk mandi dan habis mandi nonton televisi lagi.
Azan Isya waktunya makan malam, kemudian tidur.
Azan Subuh waktunya bangun, mandi dan berangkat kantor....
Ahhhhhh... azan bukan lagi panggilan untuk sholat.
Iya, jika keadaan diatas sudah terjadi, maka dimana Allah kita letak kan?
Dunia menjerat kita dengan kesibukannya, harusnya kita sadar bahwa panggilan azan itu adalah panggilan untuk menghadap-Nya. Apakah kita yang hidup di kota besar ini sudah tidak lagi membutuhkan Allah, tidak ingin lagi mencari ketenangan dengan berlama-lama diatas sajadah.
Mengadukan semua masalah dunia dan akhirat kita kepada yang memiliki napas kita, tidak inginkah kita bersyukur atas napas yang Allah berikan dari dzuhur ke Ashar, dari Ashar ke Magrib, dari Magrib ke Isya dan tidak inginkah kita bersyukur dengan bersujud sejenak setelah Allah membangunkan kita dalam keadaan sehat di waktu Subuh... Ya Allah sungguh getaran itu telah hilang dari hati.
Lupakah kita ketika musibah itu datang bertubi-tubi, dan Allah telah menjadi penolong kita melalui shalat-shalat kita, melalui sabar kita. Tidak ingin kah kita kembali bersujud panjang menitik airmata seperti dulu.
Namun kali ini karena rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan, bukankah kita yang membutuhkan shalat kita, iya shalat ini untuk kita bukan untuk orang lain. "Allah tidak membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan Allah".
Apa harus menunggu Allah murka dulu, menjewer kita dengan satu musibah lalu baru kita mau shalat tepat waktu?... Ya Allah, hamba macam apa kita ini, bersyukur saja kita tidak mampu bahkan bisa-bisanya menempatkan pemilik napas kita di urutan ke-100 untuk kita temui.
Shalat... kenapa kita harus shalat???
Pertanyaan bodoh yang tidak perlu diungkapkan, karena jawabannya jelas, shalat membuat kita tenang, shalat adalah ungkapan rasa syukur kita, shalat adalah ungkapan kerinduan setelah waktu-waktu yang melelahkan begitu menyita membunuh waktu.
Kesia-siaan yang kita biarkan berkelanjutan, jika fungsi azan sudah berpindah dari panggilan shalat menjadi alarm, lalu dimana kita letakkan Allah.
Inikah bukti cinta kita kepada Allah yang kita gembar-gemborkan bahwa kita mencintai-Nya melebihi apapun. Padahal ketika Allah memanggil, kita malas-malasan datang, jadi jangan marah ya kalau suatu hari kita butuh Allah, dan Allah juga nanti nanti saja menolongnya begitu kita sudah pingsan!!
Padahal kita membutuhkan Allah dihentakan pertama ketika luka itu datang, dan untuk membuat Allah selalu menolong kita maka kita harus membuktikan bahwa kita mencintai Allah, ketika Allah mencintai kita, apa sih yang tidak dikasih?
Ketika getaran azan tidak lagi mengetarkan hati kita, ini pertanda bahwa hati kita mendekati azal, nyaris mati atau jangan-jangan sudah mati suri dan jika ini yang terjadi maka waktunya untuk menghidupkan kembali hati kita.... cara bagaimana???
Caranya adalah dengan dzikir, ingat selalu kepada Allah, hidupkan kesadaran bahwa hidup adalah perpindahan dari satu waktu shalat ke waktu shalat yang lain. Bahwa shalat bukan sekedar kewajiban tapi juga kebutuhan, bahwa shalat adalah amalan yang pertama di hisap, bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat adalah syukur, doa... bahwa kita butuh shalat.
Apa sih yang kita punya di dunia ini selain Allah. Kekuatan apa sih yang kita miliki kecuali Allah. Dan jika mencintai Allah saja kita sudah tidak mampu lalu mau apalagi? jika bersyukur saja kita tidak mau melakukan lalu akan kita kembalikan kemana jiwa yang kering ini?
Sekian banyak hati yang luka karena lupa shalat, sekian banyak hati yang penuh amarah karena jarang wudhu, sekian banyak pencarian hanya palsu dan semu karena bukan Allah yang kita cari. Kini waktunya menjadikan shalat sebagai kebutuhan, bukan hanya kewajiban.
Tanda bahwa shalat kita diterima oleh Allah adalah bahwa kita selalu merindukan panggilan adzan dan panggilan itu mampu menggetarkan hati kita untuk menemui Allah, melepas kerinduan yang dalam, melepas lelah setelah berlari mengejar dunia... Indahnya merindukan Allah.
Sahabat,
mari ukur seberapa rindunya kita kepada Allah di saat adzan menggema.

Teruslah menulis sehabat kecilku..( Albanik A ).
BalasHapusTerima Kasih atas suppornya ya Albanik@
Hapus