Powered By Blogger

Kamis, 11 September 2014

Kan gengsi minta maaf duluan... !?



Sahabat,

"Tidak bisa donk, biar ada sedikit salah gue, kan gengsi minta maaf duluan!?"

Sering kan kita mendengar kalimat seperti ini. Kalimat yang terdengar logis jika dimasukkan dalam logika, normal untuk otak manusia yang isinya gengsi ini. Berpikir bahwa orang lain lah yang sepantasnya datang kepada diri kita dan minta maaf.

Masya Allah, semoga Allah memberi ku kekuatan untuk memaafkan, memberi kekuatan untuk minta maaf. Aku berfikir apa sih sulitnya minta maaf, meski mungkin bukan kesalahan kita.

Atas nama Allah, bukankah kita harus saling memaafkan. Rela kah kita menukar kasih sayang Allah dengan satu kata bernama "gengsi"? . Padahal Allah sangat pemaaf, sangat pengampun, kita hanya debu.

Ketika kita mampu "melepaskan diri dari perasaan marah dan dendam" maka hidup akan sangat tenang, karena kita telah berada di rel yang benar yaitu memaafkan.

Tidak ada yang salah dari sekedar berkata maaf, tidak ada harga diri yang tercabik-cabik dari membalas kalimat maaf, tidak akan menghilangkan kebahagian dengan berbagi maaf, tidak ada yang hilang.

Kita memang berhak sakit hati setelah dilukai, tapi bukan hak kita untuk menghukum? Kita bukan Tuhan, kita bukan Allah.


Apa jadinya kalau hak Allah kita ambil sok membalas menyakiti, dengan mengirim doa yang tidak baik, dengan mendiamkan, dengan terus-terusan menoreh kan luka agar kita merasa seimbang sakitnya?

Apa tidak sebaiknya saling memaafkan dan jika memungkinkan saling melupakan luka?

Mungkin terlalu berlebihan jika harus bersahabat lagi dalam waktu dekat. Tapi tidak berlebihan kan ketika harus memaafkan dan setidaknya tidak menoreh kan luka baru saat luka lama belum sembuh.

Waktu akan menyembuhkan luka hati, biar waktu yang bicara.... terdengar bijak dan hebat ya..... Waktu memang akan memulihkan semua kebencian, amarah, bahkan dendam. Hanya jika diawali dengan kesediaan untuk membuka diri dan hati, untuk mau memaafkan.

Waktu hanya akan mengorek luka semakin dalam dan membuat semua perasaan semakin tidak karuan. Jadi jangan pernah berpikir bahwa waktu cukup untuk menyembuhkan.

Kesediaan untuk memaafkan, itulah yang pertama-tama harus ada. Bukan mengharap waktu akan bicara, waktu adalah benda mati jika tidak ada kata maaf dan memaafkan.

Secara sadar maupun tidak, manusia itu punya kecenderungan untuk merasa puas jika ia berhasil mempengaruhi orang lain dan keinginannya dituruti.

Sahabat,
Mari kita berdoa untuk diri kita sendiri; "Ya Allah berilah aku kemampuan untuk memaafkan... untuk meminta maaf. Jangan biarkan aku menyesali di akhirat nanti karena tidak mampu mencium bau surga-MU hanya karena tidak mampu memaafkan, Aamiin YRA.

2 komentar:

  1. Salah satu ciri ciri orang bertaqwa..menjaga hubungan baik sesama manusia. (Albanik.A)

    BalasHapus