Powered By Blogger

Kamis, 06 Agustus 2015

Hati.

Sahabat,
Menurut kamu Hati itu apa sih?

Hati menurut ku adalah cermin... 

Iya seperti cermin diletakkan di kamar sebagai tempat berhias, yang setiap hari cermin ini selalu dibersihkan, agar aku dapat melihat diri ku dengan jelas, agar aku dapat melihat pakaian ku pas warnanya, agar aku dapat melihat wajah ku terlihat cantik, agar aku dapat melihat penampilan ku. Kemudian ketika ada debu yang lupa aku bersihkan maka jika aku biarkan akan menempel, mengering di cermin.  Dan yang terjadi kemudian adalah aku tidak lagi dapat melihat dengan jelas apakah aku terlihat cantik atau tidak, apakah penampilanku rapi atau tidak, apakah pakaian ku pas atau tidak... karena cerminnya kotor.

Begitulah hati menurut ku, hati adalah cermin...
Ketika satu kesalahan atau dosa aku biarkan, kesalahan atau dosa kedua aku lupakan dengan alasan nanti aja lah minta maafnya/taubatnya, kemudian satu titik itu menjadi menggumpal, berkarat, menghitam maka jangankan bercermin mungkin aku tidak lagi bisa membedakan mana diriku yang sebenarnya dan mana yang kotoran?!
Mungkin saat itu segala nasehat sudah tidak lagi masuk ke hatiku, tertutup oleh dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan yang berbuah kesombongan untuk mendengar nasehat.

Apa sih yang bisa membuat hati tidak bening, tidak jernih?!

Ini menurut ku....
"Ketika aku membiarkan lidah dan perbuatan ku menyakiti hati orang, ketika aku berjanji tidak aku tepati, berkata mungkin berdusta, melihat sahabat bahagia iri, melihat sahabat sedih bersorak nyukurin... yang paling parah adalah membiarkan diri ku terhujam amarah tanpa berniat untuk meminta maaf atau memaafkan kesalahan orang lain. Hati dengan semua penyakit ini, mana bisa dijadikan cermin kan?! yang ada hati jadi hitam tidak merah lagi deh"... he3x.

Apa yang harus aku lakukan...???

Yaaa... membersihkan setiap titik agar hatiku tidak berkarat. Ketika kesalahan atau dosa kecil aku buat segera mohon ampun kepada Allah dan meminta maaf, ketika dosa besar aku lakukan aku bertobat, ketika sahabat bahagia aku tidak iri tapi ikut bahagia, ketika sahabat ku luka aku tidak nyukurin tapi mengobati lukanya dengan senyum manis ku. ketika berjanji aku tepati, berkata aku jujur dan benar, ketika marah aku diam bukan mencari kambing hitam dari kesalahanku, segera minta maaf karena siapa tahu habis marah ajal ku tiba. Nah inilah hati yang jernih atau bening menurut ku.

Hati yang jernih atau bening akan jelas terlihat dari pembawaan raga karena hati adalah cerminan jiwa yang kasat mata secara raga.

Jadi hati memang hanya sepotong daging berwarna merah... tapi fungsinya menyangkut seluruh segi kehidupan, rusak hati maka rusaklah seluruh kehidupan ku.
Hati memang luar biasa...


Sabtu, 18 Juli 2015

SABTU {Lebaran}.

Sahabat,

Tulisan ku beberapa hari ini aku menggunakan judul dengan nama-nama hari... iya, hari-hari yang aku lalui selama seminggu dari minggu sampai Sabtu.

Hari ini 1 syawal 1436 H (18 Juli 2015)... Lebaran untuk ku adalah telinga ku penuh gema takbir yang menggema mengantarkan kalimat takbir tanpa putus, suara itu tidak hanya memecahkan kesunyian antara langit dan bumi namun juga mampu memecahkan keheningan di setiap lubuk hati hamba-hamba Allah... iya, bergetar rasanya.

Semenjak pindah ke negara ini 6 bulan yang lalu, aku pikir tidak akan pernah aku temui lagi suara takbir yang menembus langit, ah indahnya dan memang tidak aku temui, hanya suara angin, suara kendaraan...

Tapi bukan suasana kota yang ingin aku ceritakan, tapi sesuatu yang jauh luar biasa. Gini... beberapa bulan yang lalu aku tinggal di kota tua. Suasana ditempat aku tinggal bisa dibilang seperti kampung santri sungguh indah tenangkan hati, betapa adem dan damainya melihat anak-anak, para pemuda dan laki-laki tua berbaju disdash (baju panjang semata kaki) adalah pemandangan yang menyejukan, atau subuh yang padatnya seperti subuh di bulan ramadhan. Dan bukan tentang mereka yang hendak aku tulis tapi suasana lebaran nya.

Lebaran di kampung santri (demikian aku sebut daerah tempat tinggal ku), sebuah perkampungan dijalan sempit menyerupai gang, jalan yang turun naik seperti melewati lorong adalah sesuatu yang berbeda buat ku. Mereka berbondong-bondong berangkat ke mesjid bersamaan dengan terbitnya matahari  untuk melaksanakan shalat Ied berjamaah yang semuanya tampak bahagia.

Alhamdulillah sungguh inilah cara Allah membahagiakan hamba-hamba yang merayakan kemenangan melawan hawa nafsu atas ibadah sebulan penuh... iya, merayakan kemenangan melawan amarah, melawan hawa nafsu, melawan dusta, melawan hati nurani.

Lebaran untuk ku adalah menerima ucapan dari anak-anak tercinta yang berada di benua lain... memohon keridhoan seorang ibu atas segala yang mereka lakukan dan terjadi dengan mereka, berceloteh di video call dan mengatakan betapa mereka sangat merindukan ku, sangat ingin di peluk, sangat ingin sungkem. Ya Allah, sampaikan doa-doa ku buat mereka... katakan pada mereka bahwa mereka sudah dewasa sekarang.

Lebaran untuk ku adalah menerima dan mengirim puluhan WhatsApp dari dan ke para sahabat, meminta keikhlasan untuk memaafkan segala kesalahan, dusta, kesombongan, ketidak sanggupan bertoleransi selama bersama... iya, maafkan aku jika ternyata aku belum mampu menjadi sahabat terbaik... meskipun aku telah mampu menjadi sahabat termanis... he3x.

Ah, terlalu banyak khilaf ku sebagai manusia.

Selamat jalan Ramadhan, semoga tahun depan Allah masih menitipkan nafas untuk ku hingga aku bisa bertemu lagi dengan ramadhan nan indah, tempat mencuci segala keruh jiwaku.

Jumat, 17 Juli 2015

JUMAT {Daun}

 
Sahabat,

Jumat pagi aku habiskan waktu dirumah saja... dan pagi ini hingga siang aku membenamkan diri di sofa yang sangat empuk sambil membaca buku... ah indahnya pagi !! Alhamdulillah... inilah cara terindah bagi ku untuk mengisi waktu.

Ada yang bilang bahwa hidup ini seperti membaca buku dimana tidak semua halaman berisi cerita bahagia, kalau halaman yang kita baca sekarang ini terasa sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah... baca saja terus, nanti ada halaman yang bahagia, ada halaman yang akan membuat kita terbahak-bahak lucu, terus saja membaca, jangan buku ini berakhir.

Seperti daun yang jatuh tertiup angin, dia tidak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja, tidak melawan... mengikhlaskan semua.... semakin banyak yang jatuh semakin tumbuh daun-daun baru.

Begitulah seharusnya aku sebagai manusia, patuh pada kententuan Allah, tanpa melawan... semakin aku lawan akan semakin sengsara hidup ku, sibuk menampik, sibuk mencari pembenaran atas kesalahan yang terjadi, sibuk berkeluh kesah atas segala kekecewaan dan kehilangan.

Belajar dari kehilangan demi kehilangan, kekecewaan demi kekecewaan dari hidup yang aku jalani puluhan tahun... kemudian satu persatu sahabat berguguran seperti daun, hilang tertiup angin, menguap entah kemana, dan pada akhirnya aku sadari bahwa hanya tinggal aku... saat aku sendiri justru Allah hadir dengan syahdu, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan tidak ada lagi yang aku butuhkan kecuali Allah.

Manusia memang mahluk sosial termasuk aku... tapi sendiri pada saat aku butuh Allah ternyata sesuatu yang aku butuhkan, kemudian Allah memberikan teman-teman terbaik untuk mendampingi ku sebagai penganti teman-teman yang jatuh berguguran, dan tidak tanggung-tanggung Allah memberikan semua yang aku butuhkan untuk aku cintai dan mencintai ku.

Jadikan setiap kejadian hanya sekedar kejadian karena yang bikin hidup ini rumit kan sebenarnya diri kita sendiri. 


Kamis, 16 Juli 2015

KAMIS {Cinta}

Sahabat,
Malam tadi kami berbagi cerita tentang cinta yang tidak akan ada habisnya jika dibicarakan... karena setiap orang pasti akan punya cinta yang baru.
Kamis ini terbayang oleh ku adalah masa 25 tahun 6 bulan yang telah aku lalui bersama bapaknya anak-anak, sungguh bukan waktu yang pendek, itu artinya sudah 9.216 malam kami lewati bersama, menembus kabut melawan dingin... ehm, sudah berapa pertengkarankah terjadi dan sudah berapa besar kekuatan cinta kembali menyatukan kami, sudah berapa kalikah kami saling menggenggam tangan, saling mengisi sisi-sisi jemari yang kosong dengan jemari pasangan ketika badai menghantam kapal pernikahan kami untuk membuatnya tidak karam, membuatnya tidak kehilangan arah, dan membuat kapal itu penuh cinta.
Subhanallah ini lah surga sebelum surga Allah.
Iya, aku memang selalu takjub jika ada pasangan yang mampu membuktikan bahwa cinta itu ada, bahwa cinta itu ibadah dan bahwa cinta itu ada sebagai bukti bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang.
Lihatlah betapa bahagianya setiap mahluk yang dianugerahi Allah kasih sayang... hidup akan lebih bermakna, nafas akan lebih indah, dan esok akan penuh dengan harapan.
Inilah bukti bahwa Allah itu sangat lembut karena cinta tidak pernah menyakiti, cinta adalah kelembutan, dan subhanallah, kalimat ini yang terus terus dan meluncur dari mulut ku.
Inilah cinta yang Allah miliki, cinta tanpa menyakiti, cinta yang tidak meletakkan pasangannya disudut kamar, memegang dada menahan sakit, cinta yang tanpa kekerasan.
Ah indahnya cara Allah menempatkan aku disini hari ini, untuk memberi kabar kepada ku bahwa Allah memiliki begitu banyak keindahan di Negara ini... Allah Akbar, dan Allah ingin mengatakan kepada ku "Cinta itu ada, dan ini buktinya".
Cinta milik Allah.


Rabu, 15 Juli 2015

RABU {Menemukan}.

Sahabat,
Kangen selalu... inilah aku, yang mencoba menempatkan silaturahmi menjadi bagian dari hidup ku. Bahkan untuk orang yang pernah menorehkan luka dihati ku sekalipun. Tidak mengapa, aku ingin mencium baunya surga milik Allah dengan menyambung kembali silaturahmi.
Hari Rabu ini aku teringat ucapan sahabat ku kemaren bahwa manusia tidak pernah puas, bahwa sedikit sekali manusia yang mampu mensyukuri pemberian Allah.
Sahabatku ini mengumpamakan seperti kita duduk di depan meja yang tersedia nasi hangat, sayur asem, ikan asin, ayam goreng, tapi... hanya karena sambel yang tidak ada di atas meja lalu kita merasa tidak bahagia. Kita tidak mau makan sajian Allah yang ada dihadapkan kita. Kita tidak mampu bersyukur hanya karena impian kita menikmati sambal belum tercapai... dan gugur semua nikmat-nikmat yang lain. Mungkin Allah belum memberikan sambal yang nikmat itu karena Allah tahu bahwa perut kita belum mampu mencicipinya, kita akan sakit perut. Bukankah Allah Maha Tahu apa-Apa yang pantas kita miliki dan apa-apa yang menunggu kita kuat untuk memilikinya?
Dan kini...
Sambil tersenyum aku katakan pada diri ku sendiri "Aku musti mensyukuri apa yang saat ini aku miliki dan belum aku miliki, belajar menerima pemberian Allah, nikmati dan syukuri yang ada ini, agar ditambah lagi nikmat-nikmat yang lain oleh Allah... jangan lupa bahwa semua yang aku miliki adalah amanah, yang akan diminta pertanggung jawaban di mahkamah Allah nanti, siapkan jiwa untuk itu saja dulu, dan nikmati pemberian Allah di depan ku saat ini, itu saja dulu".
Aku jadi teringat luka yang pernah seorang sahabat  ku torehkan hampir setahun yang lalu (persisnya bulan November 2014), saat itu aku berusaha untuk bersyukur dengan menerima kehilangannya.
Ah, sungguh kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari... Hidup adalah misteri milik Allah, inilah pelajaran yang aku dapat hari ini.
Terima kasih Allah, Engkau beri kesempatan hamba untuk menyulam kembali jiwa ku yang terkoyak dengan cara yang tidak pernah aku duga...


Selasa, 14 Juli 2015

SELASA {Silaturahmi}

Sahabat,
Semoga aku tidak menjadi riya, karena jujur dari dasar hati ku yang paling dalam, aku tidak berharap pujian... aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku pikirkan sambil mengasah jiwa ku... Aku hanya ingin menulis...
Selasa, sepagian aku mengisi jiwa ku dengan berkunjung ke rumah salah satu sahabat... Kedatangan ku kali ini adalah untuk mengambil buku yang akan aku pinjam.
Sejujurnya, aku kagum dengan sahabat ku ini... kagum dengan keseluruhan ujiannya, ketabahannya menakjubkan, kesabarannya tidak berujung, kekuatannya seperti karang, hatinya lembut, tekadnya sekuat baja...
Dimata ku dia bukan hanya sahabat tapi juga tempat aku menimba ilmu..."Jangan menilai diri mu tidak bisa apa-apa, kamu punya segalanya... kamu pintar, cantik, mapan, punya masa kecil yang penuh cinta dimana tidak semua orang bisa memiliki... (ah, sahabatku mulai berlebihan menilai ku)".
Lanjutnya lagi... "kamu boleh sabar dan terus dekatkan diri kepada Allah, tapi tetap harus ikhtiar. Bukan hanya sabar, ikhlas lalu diam tapi harus berusaha... dan baru bersabar untuk menunggu hasilnya. Ikhtiar harus maksimal dan pasrah akan hasil yang akan diberikan Allah. letakkan di titik nadir untuk semua hasilnya".
Aku tertampar bahwa selama ini aku hanya bisa berkeluh kesah pada Allah, aku hanya bisa mengadu kepada Allah, tapi... Allah belum melihat cara ku, ikhtiar ku, Allah belum melihat cara ku kembali menyusun jiwaku dari kekecewaan demi kekecewaan, dari kehilangan demi kehilangan yang telah memporak-porandakan jiwa ku.
Ya Allah bimbing hamba agar hidup hamba adalah atas ridho Mu, bukan untuk yang lain. Aamiin YRA.


Senin, 13 Juli 2015

SENIN {Selalu Ada Yang Istimewa}

Sahabat,

Senin ini aku habiskan waktu dengan dua sahabat...

Selalu ada yang istimewa dari perjalan nafas ku hari ini. Disepanjang obrolan kami berbicara tentang cara beribadah yang benar, tentang gunung batu di belakang rumah ku, tentang kebun kurma, tentang langkanya air, tentang amanah... dan tentang kebesaran Allah lainnya.

Dan selalu ada yang istimewa pada saat shalat tiba...

Kami shalat bersama. Wudhunya menggunakan air yang mengalir dari tandon (tempat penampuang air) di atas rumahku yang dialirkan melalui kran, air ini terus mengalir... ah, airnya panas sekali menyapa wajah ku, membersihkan telinga ku, dahi ku, lengan ku, tengkuk ku dan kaki ku.... Alhamdulillah.

Kemudian kami shalat di dalam ruang kamar yang kosong... meletakkan kepala ku yang lelah di atas sajadah yang digelar di atas keramik, nikmatnya luar biasa, indahnya tak tertandingi meluncur dijiwa ku. Terima kasih Allah, aku bahagia dengan pertemuan ini, rasanya tidak ingin mensudahi shalat kali ini, rasanya ingin lebih lama berada di kamar ini, rasanya ingin mendengar suara alunan zikir kami.. rasanya ingin terus merasakan lembutnya suara kami ini... he3x.

Tiba-tiba ada setangkai rindu menyeruak dilubuk hati  untuk seorang sahabat sejati ku entah dimana sekarang... sms pun aku susun tapi tidak jadi aku kirim karena aku takut terluka dan melukai. Iya biarlah begini... biarlah jauh, dan penuh dengan tangkai dan rangkaian rindu.

Hah !!... Inilah hidup ku, helaan nafas ku, jiwa ku, syukur ku, jalan setapak yang harus aku lalui, tulus kasih sayang yang harus terus aku cahayakan dari jiwa ku, proses hidup ku, rindu ku pada Illahi.


Allah... aku merindukan Mu.