Powered By Blogger

Rabu, 21 Oktober 2015

Berdakwah dengan kepribadian.

Sahabat,
Berdakwah dengan kepribadian... 
Mungkin ini kalimat yang tepat untuk menggambarkan menjadi dermawan bukan dari harta... tapi dari tenaga, umur, ilmu yang berkah. Jika menasehati tidak berteriak namun dengan kelembutan.

Da'wah dengan kepribadian berarti menunjukkan pribadi baik, memberi apa yang dipunyai, meminjamkan apa yang dimiliki, mengabarkan apa yang diketahui, dan memberi manfaat apa yang ada dalam diri.

Andai semua orang mewakafkan dirinya untuk Allah mungkin tidak ada kemaksiatan dibumi Allah ini yah. Andai semua pribadi menjadikan diamnya zikir, bicaranya dakwah mungkin akan damai negeri ini. Andai mengikuti hawa nafsu bukan tujuan mengisi waktu mungkin akan banyak orang terselamatkan dari berbuat dosa. "ekstrim"

Sungguh aku tidak tahu bagaimana cara menutup tulisan ini, selain berdoa semoga aku ini mampu menjadi bintang-bintang di langit gelap, mampu menjadi obor di lorong pekat.

Satu hal yang membuat aku percaya "kita datang sendiri ke bumi Allah, pulangpun sendiri, lalu kenapa harus takut sendiri, biar semua pergi yang penting Allah tidak dan semua manusia tempatnya salah serta tidak semua hati itu logam mulia, banyak yang palsu."

Terima kasih sebelumnya ya Allah.

Senin, 05 Oktober 2015

Senyum

Sahabat,

Keajaiban senyum atau lebih tepatnya bahasa senyum mampu meluluh lantakan hati setiap yang melihatnya... bener nggak?!

Aku jadi ingat ketika seorang memberhentikan trolly ku karena sedikit menyenggol dirinya, kemudian tanpa sengaja aku tersenyum sekedar mentertawakan kebodohanku melakukan kesalahan itu, alhasil orang itu batal melotot dan hanya bilang "lain kali hati-hati ya mbak"... ah padahal senyum itu tidak sengaja lho, tetap mampu menguraikan amarah.

Belajar dari peristiwa ini, aku mulai paham bahwa senyum itu ibadah sungguh benar adanya. Senyum adalah obat duka hati, sesuatu yang sulit menjadi mudah karenanya.

Menurut ku senyum itu bahasa jiwa, meluruhkan resah, ketika aku resah maka senyum orang terdekat ku akan membantu melewati masa resah artinya ibadah bagi yang memberikan senyum karena membantu meringankan beban ku. Bahkan ketika aku tidak memiliki apa-apa yang bisa aku sedekahkan, senyum adalah salah satu cara mendapatkan pahala :)

Jadi mulai hari ini jadikan senyum sebagai ladang ibadah, meluluh lantakan bumi yang kian hari kian panas. Insya Allah dari senyum tulus yang kita berikan di akherat nanti timbangan amal kita menjadi berat dan bahkan mungkin mampu menghapus timbangan dosa-dosa kita.

Subhanallah, sudah hati bahagia dapat pahala pula, terbayang nggak ketika kita dihisab di akherat nanti kita akan terkaget-kaget karena pahala kita banyak sekali, ternyata itu semua dari senyum yang mungkin tanpa sengaja kita berikan.

Senyum adalah salah satu cara mendapatkan pahala :)

Jumat, 02 Oktober 2015

Aku Kembali...


Sahabat,

Setiap kita lahir bersih, harusnya kita juga pulang bersih ya... maksud ku setelah dibersihkan dari segala dosa, seharusnya kita tahu bahwa kita sebetulnya tidak memiliki apa-apa, semua milik Allah, dari-Nya.

Hari ini aku bahagia luar biasa, subhanallah aku mendapat email dari seorang sahabat: "Aku kembali shalat setelah sekian lama aku menjauh dari Allah, setelah sekian lama jiwaku kering dari nama Allah, setelah sekian waktu berlalu aku tidak lagi merasakan sejuknya air mengalir menyapu wajah, meruntuhkan dosa, insya Allah. Setelah sekian lama kerontang hatiku, setelah hampir terlupa bahwa apa-apa yang aku miliki karena Allah, setelah sekian kisah aku jalani dan ditengah keramaian masih terasa sepi, aku kembali... kembali wudhu, kembali ruku, kembali sujud yang meluruhkan seluruh beban dipundak ku yang kian berat, sujud yang menunjukkan hati, meluruhkan sombong. Allah ada dimana-manakan, Dia mengawasi apa yang aku lakukan, apa yang aku ucapkan, apa yang aku ambil dan apa yang aku beri..." (isi email sahabatku).

Ahh... seandainya setiap kita berpikir seperti itu mungkin tempat-tempat maksiat itu sepi, mungkin narkoba tidak beredar, mungkin Menkoinfo tidak perlu repot-repot teriak untuk menutup situs porno, mungkin tempat ibadah akan ramai, mungkin anak-anak jalan bisa bersekolah karena tidak ada yang mengemplang jatah sekolah mereka.

Dan rasanya memang sudah saatnya kita menyadari bahwa Allah itu ada, dekat dengan urat leher kita, masih belum adakah rasa takut dihati kita untuk menjauhi dosa-dosa?

Dan cukuplah hidup yang singkat ini kita isi dengan hal-hal yang diridhoi Allah saja... bukankah kita semua tahu bahwa nafas kita pasti akan berhenti?! lalu kenapa masih saja asik berselingkuh, masih saja korupsi, masih saja bergunjing, masih saja sombong, masih saja cinta dunia hingga lupa mati, masih tidak malu sama Allah yang melihat kita bermaksiat padahal segalanya sudah diberi...Cape deh.

Aku hanya tersenyum membiarkan hatiku berbicara bak ahli dakwah, dan aku mulai memutar otak karena apa yang hatiku katakan benar... hehehe manusia aneh.

Kamis, 24 September 2015

Hidup.

Sahabat,
Hari ini aku telah berdialog dengan hati nurani ku tentang hidup...

Dalam kesendirian hari ini aku bertanya pada diri sendiri "pernah nggak merasa bahwa hidup ini seperti menonton tayangan televisi, yang setiap saat disuguhi berbagai cerita??

Coba perhatikan dech..
Ada sahabat ku yang sudah meninggalkan aku untuk selama-lamanya, ada sahabat ku ingin bunuh diri karena bosan merasa sudah mencapai level mapan dan memiliki segala-segalanya sementara disana ada sahabat ku yang sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya, ada sahabat ku yang sedang sakit, ada sahabat ku yang jatuh cinta lagi (selingkuh) dengan mantan pacarnya dengan alasan bersilaturahmi, dll... ah inilah dunia, sebuah TV dihadapan ku.

Semoga aku mampu belajar dari hidup mereka untuk mengisi dan menyempurnakan hidup ku sendiri. Aamin YRA.

Jadi hidup itu apa donk ?!
Apakah yang dinamakan hidup itu ketika aku sibuk dengan apa yang ada ditangan saja, sibuk dengan diri sendiri... nggak kan ?!!

Ada yang bilang hidup ini adalah cinta karena kita terlahir dari cinta. Ada juga yang bilang hidup ini adalah menghargai orang lain atau hidup adalah mengejar mimpi... eemmm.

"Hidup ini ada yang mengatur (teriak hati nurani ku..) Allah yang mengatur segalanya, manusia hanya perlu jalankan perintah Nya dan jauhi larangan Nya... itu loh hidup sebenarnya, simpel kan!!. Ketika kita mampu menggapai cinta Allah, maka kebutuhan sekunder lain seperti rezeki, cinta, nafas, kesehatan, Allah yang mengatur".

Rasanya dialoq ini harus berhenti sampai disini karena cahaya matahari sudah semakin tinggi... menunjukan bahwa hidup harus berlanjut tanpa perlu bertanya hidup ini apa?

Hari ini masih dititipi nafas artinya masih ada mimpi yang harus diwujudkan, artinya masih ada orang-orang terluka yang bisa kita sembuhkan dengan senyum kita, masih harus menjemput rezeki dan begitu seterusnya.

Selamat beraktifitas sahabat.


Senin, 31 Agustus 2015

Pohon

Sahabat,
Dari kaca lebar dihadapanku aku melihat angin begitu kencang menggoyang-goyangkan semua pohon. Allah sedang menunjukkan betapa Maha Besar Kuasa Nya dari angin yang Ia tiupkan ke pohon itu, dan aku merasa amat kecil.

Jika Allah berkehendak maka mudahlah pohon-pohon tinggi dengan dahan yang kekar dan daun yang lebar menjuntai itu untuk tumbang dan menimpa bangunan yang di dalamnya ada aku... Allah Akbar.

Dari peristiwa ini aku mendapatkan pelajaran bahwa semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya yang berarti semakin ia menjauh dari tanah dan tumbuh tinggi maka semakin kencang angin yang menerpa. Semakin tinggi keberadaannya akan semain terlihat dan dahannya akan semakin bermanfaat. Semakin tinggi semakin sering terkena matahari dan sehat.

Begitu juga dengan kita (manusia), semakin naik derajatnya (level) kita semakin banyak ujiannya.... setuju kan...?!!.

Semakin aku sabar maka derajat ku di mata manusia akan naik. Semakin aku tawakal maka semakin banyak sahabat-sahabat yang bersandar kepada ku karena mereka tahu bahwa aku bersandar kepada Allah... artinya untuk menjadi berarti harus diuji dulu.

Setiap tingkatan kehidupan itu pasti ada ujiannya... Untuk menjadi sabar aku harus merasakan marah. Untuk menjadi ikhlas aku harus rela kehilangan apa-apa yang aku cintai. Untuk mencapai level tawakal aku harus dihempaskan oleh keadan dimana semua doa ditunda untuk dikabulkan.

Dan jangan katakan diri kita beriman sebelum teruji... eeeaaaa....

Semua ujian itu akan menjadi akar jiwa. Ujian adalah bagian dari cinta Allah... yang penting setiap ujian itu apakah akan membuat kita semakin dekat dengan Allah dan akar kita semakin kuat ataukah membuat kita jauh dari Allah.

Dan jadikan pohon sebagai Iman dan angin sebagai Ujian.


Kamis, 06 Agustus 2015

Hati.

Sahabat,
Menurut kamu Hati itu apa sih?

Hati menurut ku adalah cermin... 

Iya seperti cermin diletakkan di kamar sebagai tempat berhias, yang setiap hari cermin ini selalu dibersihkan, agar aku dapat melihat diri ku dengan jelas, agar aku dapat melihat pakaian ku pas warnanya, agar aku dapat melihat wajah ku terlihat cantik, agar aku dapat melihat penampilan ku. Kemudian ketika ada debu yang lupa aku bersihkan maka jika aku biarkan akan menempel, mengering di cermin.  Dan yang terjadi kemudian adalah aku tidak lagi dapat melihat dengan jelas apakah aku terlihat cantik atau tidak, apakah penampilanku rapi atau tidak, apakah pakaian ku pas atau tidak... karena cerminnya kotor.

Begitulah hati menurut ku, hati adalah cermin...
Ketika satu kesalahan atau dosa aku biarkan, kesalahan atau dosa kedua aku lupakan dengan alasan nanti aja lah minta maafnya/taubatnya, kemudian satu titik itu menjadi menggumpal, berkarat, menghitam maka jangankan bercermin mungkin aku tidak lagi bisa membedakan mana diriku yang sebenarnya dan mana yang kotoran?!
Mungkin saat itu segala nasehat sudah tidak lagi masuk ke hatiku, tertutup oleh dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan yang berbuah kesombongan untuk mendengar nasehat.

Apa sih yang bisa membuat hati tidak bening, tidak jernih?!

Ini menurut ku....
"Ketika aku membiarkan lidah dan perbuatan ku menyakiti hati orang, ketika aku berjanji tidak aku tepati, berkata mungkin berdusta, melihat sahabat bahagia iri, melihat sahabat sedih bersorak nyukurin... yang paling parah adalah membiarkan diri ku terhujam amarah tanpa berniat untuk meminta maaf atau memaafkan kesalahan orang lain. Hati dengan semua penyakit ini, mana bisa dijadikan cermin kan?! yang ada hati jadi hitam tidak merah lagi deh"... he3x.

Apa yang harus aku lakukan...???

Yaaa... membersihkan setiap titik agar hatiku tidak berkarat. Ketika kesalahan atau dosa kecil aku buat segera mohon ampun kepada Allah dan meminta maaf, ketika dosa besar aku lakukan aku bertobat, ketika sahabat bahagia aku tidak iri tapi ikut bahagia, ketika sahabat ku luka aku tidak nyukurin tapi mengobati lukanya dengan senyum manis ku. ketika berjanji aku tepati, berkata aku jujur dan benar, ketika marah aku diam bukan mencari kambing hitam dari kesalahanku, segera minta maaf karena siapa tahu habis marah ajal ku tiba. Nah inilah hati yang jernih atau bening menurut ku.

Hati yang jernih atau bening akan jelas terlihat dari pembawaan raga karena hati adalah cerminan jiwa yang kasat mata secara raga.

Jadi hati memang hanya sepotong daging berwarna merah... tapi fungsinya menyangkut seluruh segi kehidupan, rusak hati maka rusaklah seluruh kehidupan ku.
Hati memang luar biasa...


Sabtu, 18 Juli 2015

SABTU {Lebaran}.

Sahabat,

Tulisan ku beberapa hari ini aku menggunakan judul dengan nama-nama hari... iya, hari-hari yang aku lalui selama seminggu dari minggu sampai Sabtu.

Hari ini 1 syawal 1436 H (18 Juli 2015)... Lebaran untuk ku adalah telinga ku penuh gema takbir yang menggema mengantarkan kalimat takbir tanpa putus, suara itu tidak hanya memecahkan kesunyian antara langit dan bumi namun juga mampu memecahkan keheningan di setiap lubuk hati hamba-hamba Allah... iya, bergetar rasanya.

Semenjak pindah ke negara ini 6 bulan yang lalu, aku pikir tidak akan pernah aku temui lagi suara takbir yang menembus langit, ah indahnya dan memang tidak aku temui, hanya suara angin, suara kendaraan...

Tapi bukan suasana kota yang ingin aku ceritakan, tapi sesuatu yang jauh luar biasa. Gini... beberapa bulan yang lalu aku tinggal di kota tua. Suasana ditempat aku tinggal bisa dibilang seperti kampung santri sungguh indah tenangkan hati, betapa adem dan damainya melihat anak-anak, para pemuda dan laki-laki tua berbaju disdash (baju panjang semata kaki) adalah pemandangan yang menyejukan, atau subuh yang padatnya seperti subuh di bulan ramadhan. Dan bukan tentang mereka yang hendak aku tulis tapi suasana lebaran nya.

Lebaran di kampung santri (demikian aku sebut daerah tempat tinggal ku), sebuah perkampungan dijalan sempit menyerupai gang, jalan yang turun naik seperti melewati lorong adalah sesuatu yang berbeda buat ku. Mereka berbondong-bondong berangkat ke mesjid bersamaan dengan terbitnya matahari  untuk melaksanakan shalat Ied berjamaah yang semuanya tampak bahagia.

Alhamdulillah sungguh inilah cara Allah membahagiakan hamba-hamba yang merayakan kemenangan melawan hawa nafsu atas ibadah sebulan penuh... iya, merayakan kemenangan melawan amarah, melawan hawa nafsu, melawan dusta, melawan hati nurani.

Lebaran untuk ku adalah menerima ucapan dari anak-anak tercinta yang berada di benua lain... memohon keridhoan seorang ibu atas segala yang mereka lakukan dan terjadi dengan mereka, berceloteh di video call dan mengatakan betapa mereka sangat merindukan ku, sangat ingin di peluk, sangat ingin sungkem. Ya Allah, sampaikan doa-doa ku buat mereka... katakan pada mereka bahwa mereka sudah dewasa sekarang.

Lebaran untuk ku adalah menerima dan mengirim puluhan WhatsApp dari dan ke para sahabat, meminta keikhlasan untuk memaafkan segala kesalahan, dusta, kesombongan, ketidak sanggupan bertoleransi selama bersama... iya, maafkan aku jika ternyata aku belum mampu menjadi sahabat terbaik... meskipun aku telah mampu menjadi sahabat termanis... he3x.

Ah, terlalu banyak khilaf ku sebagai manusia.

Selamat jalan Ramadhan, semoga tahun depan Allah masih menitipkan nafas untuk ku hingga aku bisa bertemu lagi dengan ramadhan nan indah, tempat mencuci segala keruh jiwaku.